Minggu, 21 Oktober 2012

MAKNA DENOTATIF

1. Arti Definisi / Pengertian Makna Denotasi / Denotatif Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang denotatif tidak mengalami perubahan makna. Contoh : - Mas parto membeli susu sapi - Dokter bedah itu sering berpartisipasi dalam sunatan masal Makna A. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal Makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lainnya dalam sebuah struktur (frase klausa atau kalimat). Contoh: rumah : bangunan untuk tempat tinggal manusia makan : mengunyah dan menelan sesuatu makanan : segala sesuatu yang boleh dimakan Makna leksikal kata-kata tersebut dimuat dalam kamus. Makna gramatikal (struktur) ialah makna baru yang timbul akibat terjadinya proses gramatikal (pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan). Contoh: berumah : mempunyai rumah rumah-rumah : banyak rumah rumah makan : rumah tempat makan rumah ayah : rumah milik ayah B. Makna Denotasi dan Konotasi Makna denotatif (referensial) ialah makna yang menunjukkan langsung pada acuan atau makna dasarnya. Contoh: merah : warna seperti warna darah. ular : binatang menjalar, tidak berkaki, kulitnya bersisik. Makna konotatif (evaluasi) ialah makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa nilai rasa atau gambar tertentu. Contoh: Makna dasar Makna tambahan (denotasi) (konotasi) merah : warna ………………………. berani; dilarang ular : binatang ……………………..menakutkan/ berbahaya Makna dasar beberapa kata misalnya: buruh, pekerjaan, pegawai, dan karyawan, memang sama, yaitu orang yang bekerja, tetapi nilai rasanya berbeda. Kata buruh dan pekerja bernilai rasa rendah/ kasar, sedangkan pegawai dan karyawan bernilai rasa tinggi. Konotasi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif. Contoh: Konotasi positif Konotasi negatif suami istri laki bini tunanetra buta pria laki-laki Kata-kata yang bermakna denotatif tepat digunakan dalam karya ilmiah, sedangkan kata-kata yang bermakna konotatif wajar digunakan dalam karya sastra. C. Hubungan Makna 1. Sinonim Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau hampir sama. Contoh: a. yang sama maknanya sudah - telah sebab - karena amat - sangat b. yang hampir sama maknanya untuk – bagi – buat – guna cinta – kasih – sayang melihat – mengerling – menatap – menengok 2. Antonim Antonim ialah kata-kata yang berlawanan maknanya/ oposisi. Contoh: besar >< kecil ibu >< bapak bertanya >< menjawab 3. Homonim Homonim ialah dua kata atau lebih yang ejaannya sama, lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda. Contoh: bisa I : racun bisa II : dapat kopi I : minuman kopi II : salinan 4. Homograf Homograf adalah dua kata atau lebih yang tulisannya sama, ucapannya berbeda, dan maknanya berbeda. Contoh: tahu : makanan tahu : paham teras : inti kayu teras : bagian rumah 5. Homofon Homofon ialah dua kata atau lebih yang tulisannya berbeda, ucapannya sama, dan maknanya berbeda. Contoh: bang dengan bank masa dengan massa 6. Polisemi Polisemi ialah suatu kata yang memilki makna banyak. Contoh: a. Didik jatuh dari sepeda. b. Harga tembakau jatuh. c. Peringatan HUT RI ke-55 jatuh hari Minggu. d. Setiba di rumah dia jatuh sakit. e. Dia jatuh dalam ujiannya. 7. Hiponim Hiponim ialah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi superordinatnya/ hipernim (kelas atas). Contoh: Kata bunga merupakan superordinat, sedangkan mawar, melati, anggrek, flamboyan, dan sebagainya merupakan hiponimnya. Hubungan mawar, melati, anggrek, dan flamboyan disebut kohiponim. D. Makna Idiomatis Idiom ialah ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan unsur makna yang membentuknya. Contoh: (1) selaras dengan (2) membanting tulang insaf akan bertekuk lutut berbicara tentang mengadu domba Pada contoh (1) terlihat bahwa kata tugas dengan, akan, tentang, dengan kata-kata yang digabungkannya merupakan ungkapan tetap. Jadi, tidak tepat jika diubah atau digantikan, misalnya menjadi: selaras tentang insaf dengan berbicara akan Demikian pula contoh (2), idiom-idiom tersebut tidak dapat diubah misalnya menjadi: membanting kulit bertekuk paha mengadu kambing E. Perubahan Makna 1. Perluasan Makna (generalisasi) Perluasan makna ialah perubahan makna dari yang lebih khusus atau sempit ke yang lebih umum atau luas. Cakupan makna baru tersebut lebih luas daripada makna lama. Contoh: makna lama makna baru bapak: orang tua laki-laki semua orang laki-laki yang lebih tua atau berkedudukan lebih tinggi. saudara: anak yang sekandung semua orang yang sama umur/ derajat. 2. Penyempitan Makna (Spesialisasi) Penyempitan makna ialah perubahan makna dari yang lebih umum/ luas ke yang lebih khusus/ sempit. Cakupan baru/ sekarang lebih sempit daripada makna lama (semula). Contoh: makna lama: makna baru: sarjana : cendikiawan . lulusan perguruan tinggi pendeta : orang yang berilmu guru Kristen madrasah : sekolah sekolah agama Islam 3. Peninggian Makna (ameliorasi) Peninggian makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tingg/ hormat/ halus/ baik nilainya daripada makna lama. Contoh: makna lama: makna baru: bung : panggilan kepada orang laki-laki panggilan kepada pemimpin putra : anak laki-laki lebih tinggi daripada anak 4. Penurunan Makna (Peyorasi) Penurunan makna ialah perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah/ kurang baik/ kurang menyenangkan nilainya daripada makna lama. Contoh: makna lama: makna baru: bini: perempuan yang sudah dinikahi lebih rendah daripada istri/ nyonya bunting: mengandung lebih rendah dari kata hamil 5. Persamaan (asosiasi) Asosiasi ialah perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat antara makna lama dan makna baru. Contoh: makna lama: makna baru: amplop : sampul surat uang sogok bunga : kembang gadis cantik Mencatut: mencabut dengan catut menarik keuntungan 6. Pertukaran (sinestesia) Sinestesia ialah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda dari indera penglihatan ke indera pendengar, dari indera perasa ke indera pendengar, dan sebagainya. Contoh: suaranya terang sekali (pendengaran penglihatan) rupanya manis (penglihat perasa) namanya harum (pendengar pencium) F. Kata Umum dan Kata Khusus Kata umum ialah kata yang luas ruang lingkupnya dan dapat mencakup banyak hal, sedangkan kata khusus ialah kata yang sempit/ terbatas ruang lingkupnya. Contoh: Umum : Darta menggendong adiknya sambil membawa buku dan sepatu. Khusus : Darta menggendong adiknya sambil mengapit buku dan sepatu. Umum : Bel berbunyi panjang tanda pelajaran habis. Khusus : Bel berdering panjang tanda pelajaran habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar